Kapal Tanker Malaysia Lolos dari Blokade Selat Hormuz: “Iran Tidak Melupakan Teman”
Di tengah ketegangan perang dan blokade Selat Hormuz oleh Iran, kapal tanker Malaysia bernama Ocean Thunder berhasil melintas menuju Johor. Ini adalah buah manis diplomasi Anwar Ibrahim. Simak bagaimana negara-negara Asia seperti Malaysia, Filipina, India, dan Pakistan bernegosiasi untuk menyelamatkan pasokan energi mereka, serta bagaimana nasib dua kapal tanker Indonesia yang masih tertahan.
– Di tengah berkecamuknya konflik bersenjata yang mengubah kawasan Teluk menjadi zona perang, sebuah pemandangan langka terjadi di perairan strategis Selat Hormuz. Sebuah kapal tanker raksasa bernama Ocean Thunder, yang disewa oleh raksasa energi Malaysia Petronas, dilaporkan telah berhasil melintasi selat tersempit di dunia itu dengan selamat. Kapal yang membawa sekitar satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak itu kini sedang dalam perjalanan menuju Pengerang, Johor, dan diperkirakan tiba pada pertengahan April 2026.
Kabar ini diumumkan langsung oleh Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui akun resmi X mereka pada Senin (06/04). Dengan nada yang penuh arti, pihak kedutaan menulis, “Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz.” Unggahan yang ditulis dalam dwibahasa Inggris dan Melayu itu seketika menjadi simbol bahwa di balik blokade militer yang ketat, masih ada ruang bagi diplomasi dan persahabatan historis.
Bukan Sekadar Minyak, Ini Soal Nyawa Diplomasi
Pelayaran Ocean Thunder bukanlah kebetulan semata. Ini adalah puncak dari serangkaian manuver diplomatik senyap yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Jauh sebelum kapal itu membelah ombak Selat Hormuz, Anwar telah menyampaikan ucapan terima kasih secara terbuka kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, secara gamblang mengaitkan keberhasilan ini dengan “hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran.” Malaysia membuktikan bahwa di tengah pusaran perang yang melibatkan AS dan Israel, sikap non-blok dan konsisten membela Palestina selama ini berbuah manis.
Data pelayaran dari Kpler menunjukkan bahwa setidaknya ada tujuh kapal terkait perusahaan Malaysia yang telah mendapat lampu hijau dari Teheran. Kapal-kapal tersebut terkait dengan Petronas, Vantris Energy, dan MISC. Ini adalah jaminan pasokan energi yang sangat krusial bagi Kuala Lumpur di tengah ketidakpastian harga dan suplai minyak global.
Peta Diplomasi Asia: Siapa Lolos, Siapa Menanti?
Iran, melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menegaskan posisinya dengan jelas: Selat Hormuz tidak ditutup total, tetapi hanya dibuka bagi pihak-pihak yang tidak terlibat dalam “permusuhan”. “Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas,” tegas Araghchi. Berikut adalah peta negara-negara Asia yang nasib kapalnya bergantung pada meja negosiasi dengan Teheran:
- Filipina: Sekutu AS yang Dikecualikan
Ini adalah kasus yang paling menarik. Filipina dikenal sebagai sekutu dekat Amerika Serikat di Asia Tenggara. Namun, Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, berhasil mencapai kesepakatan untuk “pelintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat” bagi kapal-kapal berbendera Filipina. Manila bahkan telah menetapkan keadaan darurat energi nasional karena 98% minyak mereka berasal dari Timur Tengah. Roger Fouquet dari Energy Studies Institute Singapura menilai Iran sedang melakukan “pemisahan” antara aliansi politik sebuah negara dengan partisipasi aktifnya dalam konflik. - India & Pakistan: Buah Diplomasi Proaktif
Pakistan mendapat jaminan untuk 20 kapalnya, sebuah isyarat yang disebut Menteri Luar Negeri Ishaq Dar sebagai “positif dan konstruktif.” Sementara itu, India juga bernapas lega setelah Kedutaan Besar Iran di New Delhi menulis, “Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, tidak perlu khawatir.” Menteri Luar Negeri India, Jaishankar, menyebut ini sebagai “buah diplomasi” yang nyata. - Jepang: Lolos Tanpa Suara
Sebuah kapal Jepang pembawa gas alam cair milik Mitsui OSK Lines juga dilaporkan berhasil melintas. Namun, pihak perusahaan enggan berkomentar apakah ada “biaya khusus” atau negosiasi di balik layar yang dilakukan untuk memastikan keselamatan pelayaran tersebut.
Bagaimana Nasib Kapal Indonesia?
Di tengah kabar gembira negara tetangga, publik Indonesia bertanya-tanya: bagaimana dengan dua kapal tanker Pertamina yang terjebak? Pertamina Pride dan Gamsunoro hingga kini masih tertahan di perairan sekitar Selat Hormuz. Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri RI sedang membahas teknis pembebasan kapal tersebut.
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujar Vega dikutip dari Antara. Meski Iran dikabarkan memberikan respons positif atas upaya negosiasi Indonesia, hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan dua kapal vital itu bisa bergerak. Situasi ini menjadi ujian berat bagi diplomasi Indonesia yang selama ini dikenal luwes di kancah Timur Tengah.
Bayang-Bayang Ancaman Trump dan Misteri “Biaya Lolos”
Meski sejumlah kapal teman berhasil melenggang, situasi di Selat Hormuz tetaplah bagaikan bara dalam sekam. Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras. Ia mengultimatum akan menghancurkan infrastruktur pembangkit listrik dan jembatan Iran jika selat tersebut tidak dibuka untuk semua kapal tanpa pandang bulu. Ancaman ini menambah lapisan ketidakpastian baru.
Selain itu, masih menjadi misteri besar apakah pelintasan kapal-kapal “teman” ini murni karena hubungan baik atau ada mekanisme pembayaran tertentu. Ekonom energi Roc Shi dari University of Technology Sydney mengingatkan bahwa meskipun ada terobosan diplomatik, ini bukanlah solusi jangka panjang. “Masih belum diketahui seberapa lama jaminan-jaminan ini akan bertahan,” katanya.
Yang jelas, manuver Iran membuka blokade selektif ini adalah pesan geopolitik yang keras: di Timur Tengah yang baru, minyak tidak lagi sekadar komoditas ekonomi, melainkan senjata diplomatik untuk memilah mana kawan dan mana lawan.